Posted by: dimasaldianto | January 17, 2010

proposal hidupku

Setelah 2x mengikuti training dan membaca buku Bapak Jamil Azzaini. Saya sangat terkesan dan termotivasi. Terutama mengenai bahasan konsep proposal hidup. Sebuah konsep yg bukan hanya menawarkan mimpi2 untuk sukses di dunia tetapi juga bisa menjadi mulia dimata Tuhan.

Terngiang-ngiang dipikiran saya perkataan beliau, ” Bagaimana mungkin kehidupan kita yg akan dijalani bertahun2 tidak direncanakan secara baik(baca:proposal hidup)?” Sedangkan untuk acara 17-an(baca:1 hari) kita perlu merencanakan dengan membuat proposal. Disinilah yang membuat saya tertarik. Karena di dalam proposal hidup yang dijelaskan beliau kita tidak hanya disuruh memikirkan mimpi di dunia saja namun juga memikirkan bagamana kita menjadi mulia disisi Tuhan.

Tidak seperti beberapa buku psikologi modern yg telah saya baca. Banyak dari buku2 tersebut yang memang menjual cara2 bermimpi, namun mimpi2 tersebut hanya bersifat keduniaan. Dan tidak memikirkan bagaimana kita menjadi lebih mulia disisi Tuhan. Sebagai contoh beliau menceritakan pengalaman bapak angkatnya yg berkarir dari OB(Office Boy) kemudian dengan gigihnya dapat masuk ke dalam ‘top manajemen’. Namun bukan sampai disitu saja, karena bapak angkat beliau jg telah merawat anak-anak terlantar di rumahnya. Disini menggambarkan selain menjadi sukses didunia tetapi dapat menjadi mulia berkat menolong orang lain. Sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan nilai seseorang di sisi Tuhan(baca:pahala). Maka kelak kata beliau kelak bila kia menghadap ke Sang Khalik, tentunya ada sisi “bargaining”(baca:modal) untuk meminta surga :) .

Namun, saya berpikir bagaimanakah bila Tuhan berkendak lain terhadap mimpi2 kita. Sebagian dari kita mingkin akan kecewa. Karena sebagian berfikir kemanakah usaha yang telah kita lakukan selama ini? Apakah akan sia2? Disini yang menarik, beliau ‘menawarkan’ konsep tabungan energi. Dengan konsep ini, usaha2 kita yg positif akan masuk ke dalam tabungan energi kita. Dan kelak akan dicairkan oleh Tuhan menjadi apa yg kita inginkan.

Begitulah sedikit sharing cerita mengenai konsep proposal hidup yg telah saya dengar, mudah2an dapat bermanfaat. Memang saya pikir tidaklah mudah untuk membuat proposal hidup, terutama menjalankannya. Saya baru mencoba membuat untuk 3 bulan kedepan. Mudah2an berhasil :)

Posted by: dimasaldianto | December 21, 2009

Berlabuh dimanakah Insinyur Telekomunikasi?

Berlabuh dimanakah Insinyur Telekomunikasi?

Telekomunikasi merupakan bisnis yang sangat menggiurkan karena melibatkan pendanaan modal yang sangat besar. Banyak aspek yang terlibat disitu mulai dari operator, vendor, sampai ke subcont. Tentunya sangat membutuhkan tenaga kerja dalam menjalankan bisnis telekomunikasi tersebut. Banyak insinyur telekomunikasi terjun ke dunia tersebut. Dengan harapan mereka bisa mendapatkan “benefit” yang cukup besar bila bekerja di perusahaan telekomunikasi.

Pada masa keemasannya insinyur-insinyur tersebut mendapatkan “benefit” yang sangat baik di perusahaan telekomunikasi. Bahkan pada masa itu “benefit” yang didapat bisa hampir setara apabila dibandingkan yang didapat dari perusahaan oil&gas. Hampir semua insinyur yang terlibat dalam implementasi jaringan telekomunikasi seperti network planning, core, RAN merasa “puas” dengan apa yang mereka dapat. Mereka beranggapan bahwa dengan spesialisasi yang mereka miliki, tentu “harga” yang ditawarkan ke mereka juga harus setimpal.

Namun perubahan telah terjadi, semakin kesini “benefit” yang didapat para insinyur telekomunikasi jauh dari ekspektasi yang diharapkan. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi:

  • Perang tarif murah antar operator
  • Masuknya vendor-vendor dari negeri tirai bambu
  • Kecenderungan teknologi telekomunikasi yang berkembang cepat

Memang dengan tarif telekomunikasi yang cukup kompetitif sangatlah menguntungkan bagi masyarakat. Namun disisi lain menyebabkan adanya penurunan revenue dari pihak operator. Penurunan revenue ini mengakibatkan efek domino pada vendor dan subcont. Mereka tentunya harus menekan overhead-overheadnya. Overhead yang paling mudah dirampingkan adalah pada tenaga kerja. Selain itu proyek telekomunikasi yang bersifat short term project menyebabkan pemakaian tenaga kerja telekomunikasi yang bersifat short term juga. Maka banyak bermunculan perusahaan penyedia tenaga kerja(outsourcing). Sehingga harapan insinyur telekomunikasi untuk menjadi karyawan permanen kian sulit.

Belum lagi kecenderungan perkembangan teknologi telekomunikasi yang begitu cepat mengakibatkan “umur” perangkat telekomunikasi menjadi lebih pendek. Pemilihan pada perangkat telekomunikasi yang murah tentunya menjadi prioritas utama. Apalagi dengan perangkat murah dengan fitur yang berlimpah. Masalah kualitas mungkin jadi nomor dua karena perangkat tersebut pun juga akan cepat diganti dengan teknologi yang lebih baru nantinya. Perangkat yang murah dan kaya fitur bisa dengan mudah didapat di vendor-vendor dari negeri tirai bambu. Sehingga dengan kebutuhan tersebut maka masuklah vendor-vendor tirai bambu. Sudah barang tentu dengan perangkat yang mereka jual itu murah, maka overhead biaya tenaga kerja mereka juga harus ditekan.

Dari aspek-aspek yang disebutkan diatas tentunya membingungkan para insinyur telekomunikasi. Berlabuh dimanakah insinyur telekomunikasi? Apakah harus cari “pelabuhan” yang lain?

*)Artikel perdana untuk trial :)

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.